Kamis, 30 Juni 2011

Sebelum Pergi

Menatap langit Jakarta yg dulu sering ku maki dan ku kutuki, karena polusi mengaburkan birunya dan mengabukan awan.

Menatap langit Jakarta yang dulu sering ku tatap sinis saat dihimpit kemacetan jalan-jalan protokol

Menatap langit Jakarta
Yang dulu ku benci, kini ku tatap lagi dan lagi.

Di bawah langit itu ternyata ada kenangan masa kecil ku
Dibawah langit itu ternyata ada kasih ayah ibu ku
Di bawah langit itu ternyata ada tawa canda sahabatku
Di bawah langit itu ada kehidupanku

Menatap langit Jakarta sekali lagi.
Yang esok akan ku tinggalkan
Menatap langit Jakarta sekali lagi
Pilu kini rasa hati
Meninggalkan langit Jakarta berarti meninggalkan kehidupanku

Menatap langit Jakarta kini
Tentu aku akan merindukan langit itu.

13.06.2011
satu hari sebelum deployment pengajar muda

Selasa, 19 April 2011

Perjuangan Pertama

Pengumuman lulus seleksi berkas Indonesia Mengajar dan Undangan mengikuti direct assessment memberikan kegembiraan yang meluap-luap, beberapa jam setelah membaca email dari Indonesia Mengajar, saya mendapat telpon dari sebuah perusahaan konsultan pendidikan perancis, dy minta saya bekerja ditempatnya mulai lusa.

Sebuah pilihan berat, saya yang rela meninggalkan hobby dan kesenangan di Texas demi sebuah kemapanan, dihadapkan pada pilihan hidup mapan di perusahaan tersebut atau mengejar tantangan baru menjadi pengajar muda. Terlebih perusahaan itu sangat cocok dengan jurusan saya. Sejak lulus kuliah, sy belum pernah berkesempatan kerja yg sesuai dengan ijazah saya.

Apakah saya harus melepaskan emas dalam genggaman untuk bisa bertarung mendulang emas yg lain atau saya terima saja emas yang sudah ada? Saya harus bisa memutuskan ini dalam hitungan beberapa menit.

Akhirnya saya nekat, minta maaf kepada bos perusahaan tersebut yang memang langsung menghubungi saya. Setelah menolak dengan alasan sudah diterima kerja ditempat lain, muncul pertanyaan lagi "bagaimana kalau saya gagal bersaing dengan 248 orang hebat lainnya?" Saya telah membuang kesempatan hidup mapan. Tapi mau apa lagi, toh saya punya kesempatan baru, berjuang untuk menjadi Pengajar Muda.

Minggu, 17 April 2011

II-00117

Setelah seharian saya berkutat dengan aplikasi online Indonesia Mengajar, akhirnya
submit-click, terkirim sudah lamaran saya, dalam sejarah ngelamar kerja, inilah yang paing lama, paling ribet, paling harus berkonsentrasi dan lamaran CV instan yang saya miliki sungguh tak berarti.

tiba-tiba mata saya melotot hampir mau copot melihat nomor registrasi saya II-00117, saya adalah orang ke 117??? whaatt? dalam dua hari ada 117 orang yang melamar kerjaan ini? saya bengong lama dan mulai menyelidiki website ini lebih jauh. semakin heran, ternyata banyak anak-anak muda hebat yang antusias kabur ke pedalaman nusantara. tapi... kenapa musti heran dengan kenyataan bahwa ternyata banyak anak muda yang berkeinginan sama dengan saya? heran saya waktu itu, mungkin lebih berlandaskan takut dengan pesaing yang banyak, saya membayangkan kalau dalam dua hari ada 117 pelamar dalam 30 hari berapa banyak saingan saya nantinya?

tiba-tiba masuklah teman di google chat
"woy, 'sup sis?"

"eh, bro, baru kelar ngisi lamaran kerja online"

"ngelamar dimana lo?"

"di Indonesia Mengajar"

"hoooh yang dikirim ngajar ke pelosok ya??"

"iya, kok tahu?"

"lha kan ada kerja sama ama Pramuk, gue kan ikut ngelatih yang kemaren, kan Pak Anis nya dateng ke kwarnas"

hah???, ini berita yang sungguh lebih bikin ternganga. kok bisa-bisanya saya nggak tahu. kwarnas adalah rumah kedua, kenapa bisa info sefantastis ini terlewatkan?

"kapan? kok gw gak tau sama sekali?"

"yee, lo pan masih di Texas" pantas, saya langsung berhenti bertanya.

Januari usai, janji pengumuman di Februari minggu ke-2 jadi bisul yang cenat cenut nunggu pecah. walaupun saya sudah menyiapkan mental menjadi bagian dari ribuan orang yang gagal. tetap saya si bisul agak gatal.

akhirnya email itu pun datang menyatakan lulus dan minta saya mengikuti direct assesment.
alhamdulilaaaah....



Indonesia Mnegajar

Suatu malam di Tanah Rencong, di Bulan Desember, saya membuka email dari seorang sahabat, isinya singkat saja "Putch, ada lowongan kerja elu banget nih" sisanya sebuah link http://www.indonesiamengajar.org/ Saya tertawa, tertawa bingung dan penasaran, lowongan kerja apa yang "elu banget"

ternyata itu adalah Link website Indonesia Mengajar yang sedang mencari pengajar muda baru. melihat sepintas situs itu, saya paham kenapa sahabat saya bilang begitu. Kepala saya langsung terbayang sosok wanita Butet Manurung. ya saya adalah fans berat beliau sejak membaca buku "Sakola Rimba" karyanya.

antara antusias dan kesal membaca tanggal deadlinenya, tinggal beberapa hari lagi, dan keberadaan saya di Kota Serambi Mekkah itu bukan hanya sekedar plesiran. Perkemahan Wirakarya Nasional ke-7, tinggal seminggu lagi dan jabatan Wakil Ketua Bidang Bakti menuntut saya kerja rodi siang dan malam. terlebih, dalam aplikasi calon pengajar muda, ada permintaan membuat essay. saya tidak langsung menyerah, saya coba membuat essay, entah kenapa, menulis yang biasanya ringan, malam itu hanya menghasilkan 3 baris dalam 3 jam, saya pun tewas didepan laptop.

saya masih berniat menyelesaikan aplikasi tersebut sebelum batas akhir, tapi begitu pagi tiba, segala kesibukan saat itu menenggelamkan saya dan niat menulis essay hanya berakhir dengan mengirim email balasan ke sahabat saya "om, gue lagi sibuk berat, gak bisa bikin essay. BETE"

2 Januari 2011, pagi-pagi mendapat email kejutan isinya "Chaaayyyyy, dibuka lagi...." disertai link yang sama. hari kedua di tahun 2011, saya habiskan dengan mengisi aplikasi online Indonesia Mengajar. Yak, benar-benar dari pagi sampe sore sodara-sodara.




Rabu, 17 November 2010

Nongkrong di Warung Kopi

Kalau pejabat atau pengusaha bilang "semua bisa selesai di lapangan golf" masayarakat Aceh akan "bilang semua bisa selesai di warung kopi"

"kayak mana ya, kopi tuh Spirit buat orang Aceh" sahabat ku Mumun berseloroh tentang makna kopi. Sejak jaman nenek moyang orang Aceh, kopi dipercaya sebagai minuman pemulai hari, soft drink ditengah-tengah bekerja, dan teman santai di sore hari bahkan suguhan untuk menemani kumpul-kumpul dengan teman saat malam. Kapan pun adalah waktu yang pas buat ngopi.

Tanaman Kopi memang ada di setiap penjuru Propinsi Aceh, bahkan Kopi Takengon konon sudah di ekspor ke beberapa negara. Tapi uniknya, yang paling terkenal disini adalah Kopi Ule Kareeng, padahal menurut Mumun (narsum satu-satunya malam ini), tidak ada satu pun tanaman kopi di Ule Kareeng (entah benar atau sang Narsum agak lebay, saya kurang tahu juga). lalu dari mana penamaan Ulee Kareng pada bungkus-bungkus kopi Aceh? Rupanya, (lagi-lagi menurut Mumun), Ulee Kareng adalah tempat pengolahan kopi. biji-biji kopi terbaik dari seluruh Aceh dikirim ke sana untuk kemudian dijadikan bubuk kopi siap minum.

ERA BARU WARUNG KOPI

Kedai-kedai kopi sederhana memang sudah ada sejak dulu, beratapkan tenda dan meja-kursi kayu. dari pagi sampai tengah malam, silih berganti orang datang. Saya teringat, sahabat saya (bukan si narsum tunggal) pernah bercerita bahwa orang Aceh tidak suka baca koran tapi suka ngobrol, suka bercerita, jadi satu orang yang baca koran lalu yang lain hanya minta diceritakan, yang bercerita pun bersemangat dan tentunya sudah ditambahi bumbu-bumbu penyedap yang membuat cerita lebih dramatis dari yang diberitakan di koran. bahkan budaya mendongeng seperti yang dilakukan PM Toh, kata Mumun (lagi-lagi) namanya adalah seni Hikayat, masih digemari sampai sekarang. Mungkin inilah yang membuat orang Aceh betah berlama-lama di warung kopi. Ngobrol dan berbincang.

Berlama-lama di warung kopi bukan tak ada efek negatifnya. Pemerintah Aceh, sudah seperti kehabisan akal menegur dan memberi sanksi pada PNS Aceh yang meninggalkan jam kantor untuk ngopi. Kalau berlama-lama menyelesaikan masalah di warung kopi malah bisa bikin masalah baru.

Pasca bencana Tsunami, warung-warung kopi menjadi salah satu tempat favorite para relawan dan staff NGO baik lokal maupun international untuk rehat. mungkin setelah tsunami, perekonomian yang pulih pertama adalah perekonomian warung kopi.

setelah itu muncullah Dapu Kupi, kedai kopi modern pertama di Aceh, sudah di lengkapi akses Wi-Fi dan sofa empuk, semakin membuat pengunjung berlama-lama di warung Kopi, melihat kesuksesan Dapu Kupi, mulailah bermunculan kedai-kedai kopi sejenis, bahkan ada yang memfasilitasi dengan Karaokee. Minum Kopi dengan ditemani teknologi merupakan Era baru yang menggantikan budaya ngobrol ini. pengunjung cukup datang dengan laptop lalu bisa berlama-lama tanpa bersuara. Tapi ada satu warung kopi yang tetap menjaga tradisi, Solong, kedai kopi tertua di Aceh. Tanpa akses wi-fi tapi tetap ramai dikunjungi, karena kenikmatan kopinya yang tiada tara.

Namun, warung kopi tradisional atau pun modern, cara membuat kopinya tetap sama, harus menggunakan saringan agar aroma kopi menyengat dan menggugah selera. terakhir Mumun bilang "Kopi tuh kak, macam jimat sajalah buat orang Aceh" dengan logat Aceh yang khas.

--------------
terima kasih buat sang Narsum Tunggal.







Selasa, 16 November 2010

Memegang Teguh Tradisi Meugang

Hari Raya Iedul Adha kali ini, saya jauh dari tanah kelahiran, jauh dari keluarga dan sanak saudara, sebuah tugas sukarela dari Gerakan Pramuka membuat saya terdampar di sebuah Provinsi paling ujung di barat Indonesia. Ya, Provinsi Aceh.

Aceh, merupakan salah satu Daerah Istimewa, Syariat Islam ditegakkan di kota ini. tak heran, Hari Raya Iedul Adha disambut dengan segala kemeriahan pula, bahkan menurut beberapa teman disini, perayaan Iedul Adha di Banda Aceh, jauh lebih meriah dari pada saat Iedul Fitri.

Beberapa hari sebelum solat Iedul Adha, masyarakat Aceh disibukkan dengan membuat segala makanan yang berbahan dasar Daging. biasanya makanan-makanan khas Aceh, hampir mirip seperti masakan Padang atau daerah timur tengah sana, yang banyak meggunakan santan dan bumbu Kari. karena satu hari sebelum perayaan Iedul Adha mereka akan melaksanakan tradisi Meugang Raya dapat diartikan Meugang Besar

Meugang adalah sebuah Tradisi di masyarakat Aceh, saat seorang Pria Dewasa harus dapat membawa pulang Daging Sapi atau Kambing untuk dapat dimasak dan dimakan bersama keluarga. Dalam satu tahun ada 3 Meugang Raya, yakni sehari menjelang bulan Ramadhan, sehari menjelang Iedul Fitri dan menjelang Iedul Adha. Jadi setidaknya 3 kali masayarakat Aceh bisa makan Daging. Kata seorang teman "semiskin-miskinnya orang Aceh, pasti bisa makan daging saat Meugang"

Karena tak punya keluarga di Banda Aceh, saya dan beberapa teman senasib seperantauan kami diundang makan dirumah seorang teman, tentunya ditemani oleh beberapa teman yang tidak bisa pulang kampung karena kebagian jatah menjadi pengawal kami sang Musafir dari Ibukota (sok dramatis). Sambil makan, teman kami yang asli dari banda aceh, bercanda "Ya Allah, malu kali lah mak kita nih, anaknya numpang makan dirumah orang" jadi saat Meugang, seluruh anggota keluarga wajib makan dirumah, dan pantang sekali makan dirumah orang atau di warung. karena seakan-akan tidak ada makanan(daging) dirumahnya.

Selamat Iedul Adha 1431 H
Terima Kasih untuk Sahabat-sahabat saya di Aceh yang rela tidak pulang kampung berbagi kehangatan di Hari Raya
Salam Kangen untuk semua keluarga di Ibukota :)





Minggu, 23 Mei 2010

Dag Dig Dug Mengajukan permohonan Visa Amerika

Visa Amerika memang terkenal susah didapat, tidak ada yang pernah tahu kenapa anda ditolak atau diterima, tahun lalu saya dan ketiga teman meng-apply J-1 visa. prosesnya lancar, karena berkas lengkap dengan nama kami sudah dikirim dari Amerika langsung, kami hanya harus datang interview agar dapat stempel visa dari kedutaan.

Rasa deg-degan tetap ada, apalagi bagi saya, hari itu adalah untuk pertama kalinya saya wawancara Visa, visa apapun. Subuh saya berangkat dari rumah, sampai di Depan kedutaan Amerika Serikat, antrian panjang sudah menghiasi gerbang depan. Tua, muda, anak-anak, pasangan suami istri, orang berkursi roda, sipit, hitam-putih-kuning langsat, semua berbaris rapi padahal waktu belum menunjukan pukul 07.00 Wib. saya sendiri, jadwal perjanjian saya sebenarnya jam 09.00 Wib tapi rasa takut telat membuat saya sudah berdiri sejak pukul 06.00 Wib dan benar saja saya bukan orang terdepan.

saya jelaskan dulu proses sebelumnya :
Pertama-tama saya menunggu berkas DS-2019 yang dikirim dari Amerika Serikat, setelah berkas sampai saya harus membayar SEVIS melalui internet di www.fmjfee.com dan menunggu 1 minggu untuk menerima payment receipt

setelah berkas sevis sampai, saya harus mengisi form DS-156 (yang sekarang menjadi DS-160) lalu mendapatkan Barcode (form DS-160 lebih sulit dan lebih banyak halamannya, tips : simpan setiap halaman yang telah diisi, karena setiap 20 menit, waktu akan habis dan harus mulai dari awal, uplioad halaman terakhir yang disimpan, lalu lanjutkan sampai selesai. jangan lupa untuk menyiapkan soft copy foto visa Amerika 5 x 5 cm karena akan diminta dilembar terakhir)

mengisi form visa bisa dilakukan di http://evisaforms.state.gov/SchedulingSystem.asp

Fungsi Barcode adalah untuk memilih jadwal wawancara. Biasanya jadwal yang tersedia sekitar 2 minggu kemudian.

Kira-kira begitulah proses awalnya. dihari yang telah ditentukan, kami datang. pertama kami mengantri di depan gerbang, sekitar pukul 07.00 Wib, pintu gerbang dibuka dan satu persatu orang masuk, dengan diperiksa secara ketat Tips : Jangan membawa tas terlalu besar, lebih baik bawa dokumen, passport dan uang saja

berhasil menembus gerbang awal, kami kembali mengantri di lorong berikutnya, disini, akan ada petugas yang akan memeriksa kelengkapan dokumen dan foto, jika foto tidak sesuai, petugas akan menyarankan untuk foto ulang di Jalan Sabang. hal ini terjadi pada teman saya, ukurannya benar 5x5 cm tapi jaraknya terlalu dekat sehingga wajahnya terlihat terlalu besar. dia keluar lalu antri lagi dari awal :( tips: foto di studio foto yang biasa untuk foto visa dan biasanya bergaransi.

kami mengantri satu baris, lalu tibalah di sebuah loket dengan tulisan "Rp. 1.500.000,00 hanya melayani mata uang rupiah" kami pikir kami sudah bayar SEVIS secara on line, dan pembayaran di loket tersebut adalah pembayaran manual. teman kami yang terdepan berbicara pada petugas loket lalu keluar. dia bilang ternyata kami tetap harus membayar uang visa sebesar itu. kami panik lalu keluar kedutaan untuk cari uang. telepon sana sini minta dikirim uang sebesar itu. untung lah kami dapat dan kami mengantri dari awal lagi.

dari loket, kami mengantri kembali untuk diperiksa menuju pintu kecil, saya pikir itulah tempat wawancaranya, ternyata salah, itu adalah pintu ruang tunggu berikutnya.. disini ruang tunggu lebih nyaman, kami mengambil nomor lalu duduk ada pula beberapa jajanan seperti kedai kopi dan hamburger. sambil menunggu saya bercengkrama dengan pemohon visa lainnya ada yang ingin liburan, bisnis, menjenguk anak dan lain-lain. saya juga bisa mengamati orang yang keluar dari pintu wawancara yang tersenyum lebar artinya berhasil, yang sedih artinya gagal. aku dan temanku menebak-nebak expresi para pemohon yang keluar dari ruang wawancara.

Tidak seperti bayangan saya, ruang wawancara akan tertutup rapat, ternyata ruang wawancara hanya berupa beberapa loket yang dapat dilihat, wawancara pun hanya sekitar 1-2 menit. kalau passport diambil berarti visa diberikan kalau passport dikembalikan berarti visa di tolak.

Tidak sulit bagi kami bertiga mendapatkan visa, karena memang dokumen kami sudah dikirim langsung atas nama kami dari Amerika. pertanyaan yang diajukan seputar :
1. Apa tujuan ke AS?
2. Apa yang akan dilakukan di sana?
3. berapa lama?
4. Apakah punya keluarga di sana?
5. Pergi sama siapa?

jika ada visa dari negara lain akan sangat membantu kita untuk dapat kepercayaan dari mereka. biasanya visa dari negara lain ditanyakan kepergiannya untuk apa?

Sejak peristiwa 9/11 pemberian visa Amerika menjadi tidak jelas mengapa ditolak atau diterima, jika tidak ada undangan langsung akan sangat mendebarkan. 2 tahun lalu, beberapa teman memohon visa untuk pendakian ke gunung Mckinley dari 5 pemohon hanya 4 yang dikabulkan. Ada lagi pasangan suami istri yang sama-sama memohon, tiba-tiba salah satunya ditolak. pokoknya hanya mereka dan Tuhan yang tahu...hihi

Tahun ini...

Bulan juni tahun ini saya kembali memohon visa Amerika semua langkah sudah dijalankan seperti dulu. masalahnya ternyata jadwal wawancara visa di Block karena adanya rencana kedatangan Pesident Barack Obama. Dari kabar orang dalam yang dapat dipercaya, pemohon visa Amerika menjadi melonjak karena rencana kunjungan tersebut. saya sendiri tidak paham apa hubungannya. bukankah harusnya jadi pada banyak orang asing yang memohon visa Indonesia? kok malah kebalik ya... ah saya tidak paham.

Sampai sekarang saya dan beberapa teman masih menunggu keajaiban datang agar permohonan wawancara dikabulkan segera.